Senin, 14 September 2015

Analisis /Informasi Praktek Jaminan Bawah Tangan



Praktik jaminan bawah tangan
 Nama    : Ririn Amayanti
 Nim        : 2822133015
 Jurusan   : HK(5)


1.      Lokasi                                       : Desa tumpuk, Kec. Tugu, Kab. Trenggalek.
2.       Pihak-pihak yang terlibat     :
               a.    Kreditur                      : Bapak Santoso
               b.    Debitur                       : Mbah Suparno
               c.     Saksi                           :  1. Ibu Sumiati (Isteri Bapak Santoso)
                                                         2. Mas Irsan (cucu mbah Suparno)
3.       Barang Jaminan                     :  Sertifikat tanah berukuran 560m2
4.       Isi perjanjian                           :
Pada tahun 1996, mbah Suparno meminjam uang kepada Bapak Santoso sebesar Rp 10.000.000 dengan jaminan sertifikat tanah berukuran 560m2 ,dan akan dikembalikan dalam tempo 5 bulan. Dalam transaksi hutang piutang ini, mbah Suparno menyerahkan hak milik berlandaskan asas kepercayaan atas kebendaan (tanah) tersebut kepada Bapak Santoso dengan penguasan fisik atas tanah tersebut tetap pada mbah Suparno. Dengan ketentuan, bahwa jika mbah Suparno melunasi hutang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Maka, pak Santoso wajib menyerahkan kembali hak milik atas tanah tersebut kepada mbah Suparno.

5.       Eksekusi jika wanprestasi       :  
Sesuai dengan isi perjanjian jika dalam waktu yang telah ditetapkan mbah Suparno tidak bisa melunasi uang tersebut, maka bapak Santoso selaku kreditur berhak mengeksekusi/menjual tanah tersebut untuk dijadikan pelunasan hutang.

6.       Pendapat                               :
Menurut pendapat saya, praktik jaminan yang dilakukan oleh bapak Santoso dengan mbah Suparno adalah praktik jaminan dibawah tangan (tanpa akta notaris). Maka dari itu,  Praktik jaminan seperti ini masih belum terjamin/belum mendapatkan perlindungan hukum. ini kurang memberikan jaminan dalam pelunasan piuang tersebut.

7.       Saran                                      :
Dalam melakukan praktik jaminan seharusnya dibuatkan akta/perjanjian utang piutang secara autentik di hadapan notaris pejabat yang berwenang. Agar memiliki kekuatan hukum, dan apabila terjadi wanprestasi, maka barang/benda yang dijaminkan dapat segera dieksekusi.